pertanian

Pertanian organik

Pertanian organik


didefinisikan sebagai ’sistem pengurusan pengeluaran makanan holistik, yang menggalakkan dan meningkatkan kesihatan ekosistem pertanian, termasuk kepelbagaian bio, pusingan biologikal dan aktiviti biologikal tanah. Ia menekankan penggunaan amalan pengurusan dalam mengutamakan penggunaan input luar ladang, dengan mengambil kira keadaan wilayah yang memerlukan penggunaan sistem tempatan. Ini boleh dilakukan dengan menggunakan seberapa yang boleh, agronomi, kaedah mekanikal dan biologikal, bertentangan terhadap penggunaan bahan sintetik, untuk memenuhi sebarang fungsi khusus dalam sistem.” (FAO/WHO Codex Alimentarius Commission).
Melalui kaedah holistik semula jadi, pertanian organik menyatukan kepelbagaian bio liar, kepelbagaian bio pertanian dan pemuliharaan tanah, dan membawa pertanian satu langkah ke hadapan dengan menghapuskanbaja kimia, racun makhluk perosak dan organisme ubah suai genetik (GMO), yang bukan hanya memperbaiki kesihatan manusia, tetapi juga flora dan fauna yang berkait dengan ladang dan alam sekitarnya. Pertanian organik menguatkan struktur tanah, memelihara air dan memastikan pemuliharaan dan penggunaan mapan kepelbagaian bio.
Pencemaran pertanian seperti baja bukan organik, racun rumpai dan racun makhluk perosak daripada pertanian konvesional adalah menjadi kebimbangan utama di seluruh dunia. Eutrophication, tumbuhan dan binatang akuatik menjadi lemas akibat pertumbuhan algae yang cepat, dirujuk sebagai ‘algae blooms’, membunuh tasik, sungai dan air. Penggunaan berterusan racun rumpai dan racun makhluk perosak boleh melangkaui sasaran rumpai dan serangga apabila diperkenalkan dalam alam sekitar akuatik. Bahan kimia ini berkumpul dalam rantaian makanan di mana pemangsa pada bahagian paling atas sering mengambil dos toksik.
Pertanian organik mengembalikan keseimbangan alam sekitar dan tidak mempunyai kesan yang merosakkan ke atas alam sekitar (IFOAM). Untuk bahan organik apa yang kita perlukan ialah baja yang baik. Persoalan yang sering ditanya ialah di mana untuk kita mendapatkan baja yang banyak ini. Jawapannya terletak dalam kompos. Sebahagian besar sisa organik daripada pertanian serta sisa pasar dengan mudah boleh ditukarkan kepada baja, tanpa kos pelaburan yang besar. Ini menggalakkan industri bagi kompos berasaskan tempatan. Semburan dedaun organik serta semburan penghalau serangga juga boleh disediakan pada peringkat tempatan. Ia juga boleh menghasilkan peluang untuk sebahagian besar belia dan wanita di luar bandar. Kerajaan membelanjakan wang yang besar terhadap perbelanjaan perubatan apabila menumpukan kepada makanan yang sihat boleh menjadi jawapannya. ‘Mencegah lebih baik dari mengubati’ dan dasar kerajaan terhadap pertanian perlu disesuaikan untuk menggalakkan serta melindungi pertanian organik.

Pertanian Organik

Pertanian Organik adalah sistem produksi pertanian yang menghindari atau sangat membatasi penggunaan pupuk kimia (pabrik), pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan.
Budidaya tanaman berwawasan lingkungan adalah suatu budidaya pertanian yang direncanakan dan dilaksanakan dengan memperhatikan sifat-sifat, kondisi dan kelestarian lingkungan hidup, dengan demikian sumber daya alam dalam lingkungan hidup dapat dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga kerusakan dan kemunduran lingkungan dapat dihindarkan dan melestarikan daya guna sumber daya alam dan lingkungan hidup
Lahan
Pada dasarnya semua lahan dapat dikembangkan menjadi lahan PO. Yang terbaik adalah lahan pertanian yang berasal dari praktek pertanian tradisional atau hutan alam yang tidak pernah mendapatkan asupan bahan-bahan agrokimia (pupuk dan pestisida).
Namun, bila lahan yang digunakan berasal dari lahan bekas budidaya pertanian konvensional (menggunakan pupuk dan pestisida kimia), lebih dahulu perlu dilakukan konversi lahan. Konversi lahan adalah upaya yang bertujuan untuk meminimalkan kandungan sisa-sisa bahan kimia yang terdapat dalam tanah dan memulihkan unsur fauna dan mikroorganisme tanah. Lamanya konversi tergantung dari intensitas pemakaian input kimiawi dan jenis tanaman sebelumnya (sayuran, padi atau tanaman keras).
Masa konversi dapat diperpanjang/diperpendek tergantung pada sejarah lahan tersebut. Bila masa konversi telah lewat, lahan tersebut merupakan lahan organik. Bila kurang dari itu, maka lahan tersebut masih merupakan lahan konversi menuju organik.

Benih
Benih yang digunakan untuk budidaya PO adalah benih yang tidak mendapatkan perlakuan rekayasa genetika. Petani sebaiknya menggunakan benih lokal, atau benih hibrida yang telah beradaptasi dengan alam sekitar.
Keunggulan menggunakan benih lokal adalah mudah memperolehnya dan murah harganya, bahkan petani bisa membenihkan sendiri. Selain itu, benih lokal memiliki asal usul yang jelas dan sesuai dengan kondisi alam sekitar. Dengan memakai benih sendiri, petani juga tidak tergantung pada pihak luar.

Persiapan tanam
Lahan yang digunakan untuk produksi PO sedapat mungkin dijaga kestabilannya tanpa harus mengacaukan, yaitu berpedoman pada metode sedikit olah tanah (minimum tillage).

Tanam
Prinsip yang diterapkan dalam praktek penanaman PO selalu mencerminkan adanya tumpangsari agar tercipta keanekaragaman tanaman (varietas). Perencanaan dan teknik penanaman perlu disesuaikan dengan sifat tanaman, prinsip-prinsip pergiliran tanaman dan kondisi cuaca setempat.

Pemeliharaan Tanaman
Setiap tanaman memiliki sifat karakteristik tertentu, maka pemeliharaan tanaman ditentukan oleh sifat karakteristik tersebut. Dengan mengenali karakteristik tanaman petani dapat dengan mudah melakukan pemeliharaan yang sesuai, sehingga tujuan pemeliharaan tercapai yaitu “kebahagiaan tanaman itu sendiri”.

Pemupukan
Secara teori, lahan PO akan semakin subur karena proses-proses yang diterapkan berpedoman pada pemeliharaan tanah. Tetapi realitanya, petani seringkali kurang memahami hal ini sehingga tanah selalu lebih banyak kehilangan unsur hara —melalui erosi, penguapan, dsb— dibandingkan dengan hara yang diberikan/ditambahkan. Maka prinsip pemupukan ditentukan oleh kepekaan kita dalam mengamati/menilai kapan tanaman kekurangan makanan.

Pengendalian HPT/OPT
PO berbasis pada keseimbangan ekosistem. Konsekuensinya semua organisme yang ada (termasuk hama) dipandang ikut berperan dalam proses keseimbangan tersebut. Dengan kata lain, tidak ada mahluk hidup yang tidak berguna. Yang diperlukan adalah mengendalikan hama/penyakit supaya tidak berada dalam jumlah berlebihan.
Pola tumpangsari, pergiliran tanaman, pemulsaan, rekayasa teknik menanam, dan manajemen kebun menjadi pilihan metode pengendalian HPT karena sesuai dengan prinsip keseimbangan.
Penggunaan pestisida alami diperlukan sejauh kita tahu bahwa di lahan PO sedang terjadi ketidakseimbangan, yang terlihat pada munculnya gangguan hama/penyakit. Kadar pemakaiannya juga tergantung dari tingkat gangguan yang ada.
Panen
Setiap langkah dalam proses produksi akan dinilai dari hasil panenan. Prinsip dalam panen adalah menjaga standar mutu dengan memanen tepat waktu sesuai kematangan. Cara pemanenan juga perlu berhati-hati sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau kehilangan hasil yang lebih besar.

Pasca Panen
Kegiatan pasca panen harus mampu menekan kerusakan hasil seminimal mungkin. Metode pengolahan yang dilakukan tidak boleh mengubah sama sekali komposisi bahan aslinya. Karenanya proses seleksi, pencucian, pengepakan, penyimpanan dan pengangkutan produk organik perlu berhati-hati agar kondisi tetap segar dan sehat ketika berada di tangan pembeli. Dalam PO, kegiatan pasca panen menghindari pemakaian bahan pengawet atau perlakuan kimiawi lainnya dan seminimal mungkin melakukan proses pengolahan.